Postingan

Menampilkan postingan dengan label Contoh puisi kontemporer

MUSANG

Gambar
Siapa yang tak kenal musang Di hutan rimba ia dipuja Karena keelokan ahlinya Pernah sekali ia gagal Musang terlena Menutupi kesalahannya Diancam dirinya untuk melupakan Tak jua berapa sungai ia arungi Tetap saja ia kembali Tak peduli hewan lain ikut menjauh Acuh tak acuh dengan musang Melirik pun tak Sakit hati musang Hanya karna ia pernah jatuh Dengan cinta Hingga.. Hingga ia tiba di bibir tebing Terpana musang dari atas Melihat sekeliling begitu mendebar Semburat mentari senja Sangat lembut Tak jua berapa kali ia menahan diri Tetap saja selalu memikat hati Polos sekali hatinya berbisik Aku jatuh cinta Dilangkahkan kakinya ke ujung tebing Lalu pula ia lupa Semakin musang mengagumi Kendati musang harus menjauh Tapi tak ia lakukan Musang jatuh Kali ini bukan karna cinta Ia mengira mentari senja selalu indah hanya untuknya Lupa bahwa mentari senja pun selalu dijemput malam Kecewa musang karna terlalu buta Bahwa sesungguhnya.. Ia lah yang harus selalu m...

KOTA BERLANGIT JINGGA SAAT MALAM ENGGAN TIDUR

Dibelenggu siang yang mengasah penat Masih saja asap jail mengepul diatas kota Kota berlangit oranye saat malam ini tidak pernah tidur Rembulan pun tak nampak senyumnya Bintang memilih diam dibalik panggung tirai polutan kota Purnama kedua belas tidak pernah sesedih ini Tengah malam tidak berarti bagi sang pengantar tidur Tidak berlaku bagi piawai ekonomi kelas dunia Yang masih mengumpulkan setetes harta bagi keturunan selanjutnya Beton beton berdiri kokoh seakan tak pernah goyah Membuat kota ini semakin terlihat sempit Kota ini kaku Mahal akan budaya, seperti sudah hilang Semoga hanya di ibu kota Angin malam tak pernah kulihat sedingin ini Ia pilu, diracuni Tapi kota ini penuh sejarah Jika kau tanya angin malam disini Ia siap menyampaikan kisahnya Kisah yang ia lalui selama ribuan dekade Tak pernah ia mau berbohong Karena ia yang paling jujur dikota yang fana ini Penuh kecurangan Petinggi, atasan, hingga karyawan Selalu beradu seakan ini medan sang petarung ...

SYAIR BERANTAI

Urutan jejer: Defa pinggir kiri – Panca – Fadhila – Mutiah pinggir kanan Defa: Pada zaman dahulu kala Tersebutlah sebuah cerita Sebuah negeri yang aman sentosa Dipimpin sang raja nan bijaksana Panca: Raja tersebut bernama Panca Mempunyai dua belas orang anak Mendongengkan sebuah cerita Beginilah ceritanya Fadhila: Terkisah seorang pahlawan Ia berani dan gagah perkasa Manafkahi keluarganya Hingga sakinah mawadah dan warahmah ( Fadhila: Dia….. Mutiah: Adalah……. ) Mutiah: Papaku yang tersayang Rinduku tak kunjung hilang Menyelimuti bagai selendang Menunggumu pulang dari Padang *Defa dari ujung ngusir kita bertiga* Hus…hus.. *Panca Fadhila Mutiah ngeliatin Defa ^muka sinis^ terus langsung minggir* Iiiiiiihhhhh…. *Jadi cuma ada Defa di depan* *Yang lainnya minggir* Defa: Aku….bersekolah di SMA 6 Niat awalku untuk belajar Tetapi ketika aku melihat dia (Nunjuk Dema) Niatku menjadi mengerjarnya *Defa minggir dikit terus ngadep kearah pintu, acting mikir* *Mutiah maju ketengah* ...