Postingan

Menampilkan postingan dengan label Contoh puisi baru

MUSANG

Gambar
Siapa yang tak kenal musang Di hutan rimba ia dipuja Karena keelokan ahlinya Pernah sekali ia gagal Musang terlena Menutupi kesalahannya Diancam dirinya untuk melupakan Tak jua berapa sungai ia arungi Tetap saja ia kembali Tak peduli hewan lain ikut menjauh Acuh tak acuh dengan musang Melirik pun tak Sakit hati musang Hanya karna ia pernah jatuh Dengan cinta Hingga.. Hingga ia tiba di bibir tebing Terpana musang dari atas Melihat sekeliling begitu mendebar Semburat mentari senja Sangat lembut Tak jua berapa kali ia menahan diri Tetap saja selalu memikat hati Polos sekali hatinya berbisik Aku jatuh cinta Dilangkahkan kakinya ke ujung tebing Lalu pula ia lupa Semakin musang mengagumi Kendati musang harus menjauh Tapi tak ia lakukan Musang jatuh Kali ini bukan karna cinta Ia mengira mentari senja selalu indah hanya untuknya Lupa bahwa mentari senja pun selalu dijemput malam Kecewa musang karna terlalu buta Bahwa sesungguhnya.. Ia lah yang harus selalu m...

PULANG

Hanya aku dan kisah ini Malam selalu mengerti Ia terlihat lebih sendu Seakan selalu tau resahku Mereka yang berkata tak pernah pergi Berkhianat pada akhir kisah ini Ketika buku telah ditutup Dan rasa ini telah redup Ketika aku berusaha menulis akhir bahagia Tapi aku selalu kehabisan tinta Dan sisanya selalu kau bawa pergi Aku pun menyadari Kalau kisah ini telah habis Di kala sang fajar mulai mengaung Dan matahari enggan bangun Embun yang tidur seakan terbang Bersama mimpi hanya angan-angan Aku bersedia menunggu Untuk membuka kisah baru ... Saat aku setia menunggumu bersama senja Dan kau akan pulang membawa jingganya -Mutiah Eka Rani, 17th

KABAR ILALANG

Bagaimana kabar ilalang Yang sejak kini masih terikat dikursi perasaan Aku tau ia masih layu Ia berbisik kecil kepadaku "Aku bahagia" Kendati ia tersenyum lalu menarik nafas dalam Aku tau ia berusaha memperbaiki luka Gagak yang tak bertanggung jawab Datang dengan anarkis Pergi jauh meninggalkan amis Tidak kembali Wahai ilalang Bukan hanya dirimu Tapi kesedihanmu Pahitnya, kau lupakan kebahagiaan yg tersisa Demi mengumpulkan sebagian yang telah pergi Apa kau belum bisa menerima? Angin yang kau jumpai kini resah Melihatmu sedih tak tentu arah Ilalang.. Jangan diam disini Cabut akarmu lalu pergilah Selalu ada ladang Sebagai wadah untuk memulainya kembali [Teruntuk yang diam-diam memberi inspirasi, Ilmadinda Shalaza] -Mutiah Eka Rani, 17th

Kepada: Daun yang Gugur (Aku Ingin Bercerita)

Untuk daun yang gugur Kepada awan yang menutupi sirna Aku ingin bercerita Sudah kucoba bersikap biasa Tetapi setiap kali aku melihatnya Yang kulihat hanyalah kehancuran Terbuka kembali plester dihati Terputar kembali kenangan Yang sudah sengaja aku lupakan Karna hanya membuat aku sakit Wahai daun yang jatuh Kalau ia cinta Mengapa ia pergi Kalau ia sayang Mengapa ia tak bisa menerima kekuranganku Mungkin ia befikir ia telah sepenuhnya mengerti aku Tetapi belum Ia berkata ia selalu mengerti aku Tetapi belum Dengan semua sikap yang telah ia lakukan Apa bisa dibilang ia mengerti aku? Tidak. Tidak. Ia hanya membuat plester dihati terbuka Untuk kesekian kalinya Dulu kukira Ia datang untuk perbaiki luka Hingga saatnya ia hanya menggantungkan luka Ia tidak benar-benar bisa memperbaiki luka Hanya membuat hati ini semakin rapuh Biarkan waktu yang menghitung kemampuanku Melupakannya -Mutiah Eka Rani, 17th

KEMARIN DATANG

Baru kemarin datang Bersama senja terbitkan malam Ayah datang Hingga jari tak mampu berkutik Akan rindu yang mengusik Hingga tangis tak bisa menolong Membendung kantong hujan dimataku Ayah datang Seluruh waktuku hanya untuk ayah Karena itu jarang Hingga aku bisa melupakanku resahku Menggapai senangku Hingga akhir penghabisan waktu Ayah pergi Untuk kesekian kali Aku menangis Tubuhku bergetar tak mampu merasakan Sedih yang menyelimuti batinku Sedih yang menyelimuti fikiranku Sedih yang selalu datang mengusik-ku Hingga rindu ikut campur Ayah.. Aku selalu berdoa agar kau baik-baik saja Aku selalu berdoa agar aku bisa bertemu lagi untuk selamanya Selama-lamanya Ayah.. Aku masih rindu Cepatlah pulang -Mutiah Eka Rani, 17th

WAHAI PENGETUK

Siapa dirimu Yang berani mengetuk pintu hatiku Tunggu Masih layu Masih tertanam benih yang dulu Meskipun sudah membusuk Suara ketukanmu samar Seperti tak terdengar Denting yang dipukul Aku tak bisa mendengar Berikan aku sesuatu Yang bisa membuatku percaya Akan datangnya ketukanmu Aku mohon Jangan terlalu keras kau mengetuk Hingga membuatnya terluka lagi Rusak Kata sepadan Kaku Aku masih tak bisa merasakan apapun Membeku Mungkin tak kau bawa hangat bersamamu Izinkan aku istirahat sejenak Jangan ganggu hati ini dulu Maaf Apa yang kau lakukan Untukku mendengar suara ketukanmu Hingga kau buat hati ini rusak Lagi Maaf kau tak bisa merusak hati yang telah rusak Pergilah Jika kau hanya ingin mengambil Bagian dari kesenanganku Aku sudah banyak belajar Jangan kau bermain bersama pola pikirmu Aku lelah Kau tak mengerti Wahai pengetuk pintu hati Jangan sentuhkan jarimu kembali Kedasar ini -Mutiah Eka Rani, 17th

SAAT AKU MEMILIKIMU

Hari-hari terasa lama Saat aku bersamamu Menghitung langkah kakiku Menghitung hari-hari bersamamu Mengharapkan akhir yang bahagia Saat aku mencintaimu Hujan di pelupuk mata Menguras seluruh tenaga Andai hati masih pantas Untuk mengatakan jangan pergi Berharap agar langit tak goyah lagi Mamaku khawatir Tapi, sumpah aku baik-baik saja Baik-baik saja Kau berikan aku langit yang biru Dan kau juga yang merubahnya Menjadi langit berhujan Aku hidup dalam permainan pokermu Kau ubah aturan sesukamu Bertanya-tanya siapakah dirimu Yang kuajak bicara ditelfon malam itu Kasih Cerminan dirimu itu aku Tapi kini aku tahu kau tlah pergi Tidakkah kau pikir Apa yang aku rasakan Selama aku mencintaimu Gadis bertopeng anak kecil Menangis Sepanjang kepergianmu Harusnya kau tahu Mungkin egoisku yang patut disalahkan Atau mungkin dirimu Dan segala kegilaanmu Berikan cinta lalu mengambilnya kembali Dan kau tambahkan namaku Kedaftar orang yang tak mengertimu Aku men...

SYAIR BERANTAI

Urutan jejer: Defa pinggir kiri – Panca – Fadhila – Mutiah pinggir kanan Defa: Pada zaman dahulu kala Tersebutlah sebuah cerita Sebuah negeri yang aman sentosa Dipimpin sang raja nan bijaksana Panca: Raja tersebut bernama Panca Mempunyai dua belas orang anak Mendongengkan sebuah cerita Beginilah ceritanya Fadhila: Terkisah seorang pahlawan Ia berani dan gagah perkasa Manafkahi keluarganya Hingga sakinah mawadah dan warahmah ( Fadhila: Dia….. Mutiah: Adalah……. ) Mutiah: Papaku yang tersayang Rinduku tak kunjung hilang Menyelimuti bagai selendang Menunggumu pulang dari Padang *Defa dari ujung ngusir kita bertiga* Hus…hus.. *Panca Fadhila Mutiah ngeliatin Defa ^muka sinis^ terus langsung minggir* Iiiiiiihhhhh…. *Jadi cuma ada Defa di depan* *Yang lainnya minggir* Defa: Aku….bersekolah di SMA 6 Niat awalku untuk belajar Tetapi ketika aku melihat dia (Nunjuk Dema) Niatku menjadi mengerjarnya *Defa minggir dikit terus ngadep kearah pintu, acting mikir* *Mutiah maju ketengah* ...